WALISONGO : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

Walisongo – Walisongo di kenal sebagai penyebar agama Islam terbesar di Pulau Jawa pada abad ke-14. Para walisongo tinggal di tiga wilayah penting pantai utara pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Tuban-Lamongan yang berada di provinsi Jawa Timur, sedangkan Demak, Kudus, dan Muria berada di provinsi Jawa Tengah, dan Cirebon berada di provinsi Jawa Barat.

Para wali songo ini berdakwah di setiap bagian Nusantara negeri ini dengan mengajak masyarakat untuk masuk dalam agama Islam tanpa adanya sebuah paksaan sama sekali. Dalam setiap berdakwah setiap Sunan (Julukan walisongo) memiliki wilayahnya masing-masing,dan selain itu juga terdapat beberapa peninggalan yang menjadi bukti terhadap perannya dalam tersebarnya agama Islam di Negeri ini.

Wali Songo dan Peranannya Menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa

Walisongo
Walisongo

Wali songo adalah sejumlah wali yang memiliki kontribusi besar penyebaran Islam di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, serta Sunan Gunung Jati. Semasa hidupnya mereka tidak hidup secara bersamaan namun mereka mememiliki hubungan erat anatara guru dan murid.

Era walisongo merupakan era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara di gantikan dengan kebudayaan Islam. Tentu banyak tokoh lain yang ikut serta berperan, namun peranan mereka sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat.

Berikut beberapa nama wali songo dan peranannya dalam menyebarluaskan agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa :

1. Sunan Gresik – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Maulana Malik Ibrahim di lahirkan di Campa (Kamboja), ayahnya bernama Barakat Zainul Alam yaitu seorang ulama besar di  Maghrib.  Maulan Malik Ibrahim ini di sebut sebagai Sunan Gresik atau Syakh Maghribi atau Makhdum Ibrahim al-Samarqandi, dan orang jawa biasa menyebutnya sebagai Asmaraqandi.

Maulana Malik Ibrahim merupakan orang pertama yang menyebar luaskan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para walisongo yang lainnya. Dengan di temani oleh beberapa sahabatnya beliau datang pertama kali di Desa Sembolo yang sekarang adalah Desa Laren kecamatan Manyar, 9 kilometer dari arah utara kota Gresik.

Sebelum masuk ke tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim bermukim di Champa (Dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama 13 tahun. Beliau menikahi putri raja yang memberinya dua putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Rasyid Ali Murtadha (Raden Santri). Setelah dirasa cukup berdakwah di negeri tersebut beliau hijrah di pulau Jawa yaitu di Gresik.

Setelah mendarat di kota Gresik, beliau memilih tempat  di sebuah Desa bernama Laren. Di desa itulah tepatnya pada tahun 801 H/ 1329 M beliau menjalankan misi dakwah ajaran agama Islam. Selain itu, beliau juga membuka toko di Desa Romo (3 km sebelah barat kota Gresik). Dengan memperkenalkan barang-barang bawaanya.

Islamisasi Jawa, aktivitas pertama yang di lakukan oleh Maulan Malik Ibrahim adalah berdagang dengan membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus beliau menawarkan diri sebagai tabib untuk mengobati masyarakat secara gratis. Maulan Malik Ibarahim saat itu juga mengajarkan tentang bercocok tanam.

Beliau merangkul masyarakat bawah yang di sisihkan oleh komunitas Hindu. Pendekatan yang di lakukan adalah dengan pergaulan dan berdagang. Dengan adanya budi bahasa yang ramah senantiasa di perlihatkannya dalam pergaulan sehari-hari, beliau tidak menantang kepercayaan penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan agama Islam.

Berkat keramah tamahannya banyak masyarakat yang tertarik untuk masuk dalam agama Islam. Setelah cukup mapan Maulana Malik Ibrahim melakukan kunjungan ke Ibu kota Majapahit di Trowulan, meskipun raja tidak masuk Islam, namun raja menerimanya dengan baik, bahkan memberikan sebidang tanah di pinggiran kota Gresik yang sekarang di sebut sebagai Gapura.

2. Sunan Ampel – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Nama asli dari sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Pada umumnya sunan Ampel di anggap sebagai wali sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya berada di Ampel Denta Surabaya, juga merupakan salah satu penyebaran ajaran agama Islam tertua di Jawa. Beliau menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila.

Dewi Condrowati ini merupakan putri dari adipati Tuban yaitu Arya Teja, selain itu beliau juga menikah dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dari pernikahannya dengan Dewi Condrowati berputra-putri Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syari’ah, Raden Qasim (Sunan Derajat), Sunan Sedayu, Siti Mutma’innah, dan Siti Hafsah.

Sedangkan pernikahannya dengan Dewi Karimah berputra-putri Dewi Murtasiyah yang juga merupakan istri dari Sunan Giri, Dewi Murtasimah (Dewi Asyiqah) yang juga merupakan istri dari Raden Fatah, Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Raden Zaenal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).

Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443,  untuk menemui bibinya Dwarawati, ia merupakan seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya. Dakwah sunan Ampel yang di kenalkan kepada masyarakatnya di kenal dengan sebutan Moh Limo.

Moh Limo yang di maksud adalah Moh Mabok (tidak mau minum minuman keras), Moh Main (tidak mau judi, togel, taruhan), Moh Madon (tidak mau zina, lesbian, homo), Moh Madat (tidak mau mencuri), Moh Maling (tidak mau mencuri, korupsi, dan lain sebagainya). Dakwah Sunan Ampel ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan akhlaq di tengah masyarakat saat itu.

Pada tahun 1479 M, Sunan Ampel mendirikan masjid Agung Demak, dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan dakwahnya di kota Demak adalah Raden Zaenal Abidin yang di kenal sebagai sunan Demak, Raden Zaenal Abidin merupakan putra sunan Ampel dari Dewi Karimah.

3. Sunan Bonang – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Sunan Bonang di lahirkan pada tahun 1465 dengan nama asli yaitu Raden Maulana Makhdum Ibrahim, beliau putra sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Bonang merupakan sebuah nama Desa di kabupaten Rembang.  Nama sunan Bonang ada yang menyebutnya dari  Bong Ang yang sesuai dengan marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Setelah selesai menimba ilmu, beliau kembali lagi ke Tuban  dan kemudian mendirikan pesantren di tanah kelahiran ibunya tersebut. Saat itu masyarakat Tuban sangat menyukai hiburan, oleh karena itu cara berdakwah sunan Bonang salah satunya adalah dengan membuat alat musik tradisional yaitu gamelan untuk menarik hati masyarakat agar tertarik untuk belajar agama Islam.

Selain menjadikan pesantren di Tuban sebagai basis wilayah dakwah, beliau juga menyebarkan Islam dengan cara berkeliling. Sunan Bonang selain menyebarkan ajaran agama Islam dengan gamelan, beliau juga menggunakan cara dakwah dengan adanya karya sastra yang berupa carangan paweyangan dan suluk serta tembang tamsil.

Sunan Bonang berdakwah dengan menggunakan kesenian alat musik tradisional adalah untuk menarik hati dan simpatik masyarakat. Menurut beliau cara berdakwah dengan alat musik tradisional merupakan cara yang tepat, sehingga beliau juga mempelajari kesenian Jawa salah satunya adalah Bonang (alat musik yang di pukul menimbulkan suara merdu).

Setiap kali sunan Bonang membunyikan alat musik tersebut banyak masyarakat berdatangan untuk mendengar dan menyaksikan, setelah masyarakat tertarik hati dan simpati kemudian beliau menyisipkan ajaran agama Islam kepada masyarakat.

Dengan keahlian seni dan sastranya, sunan Bonang mengajarkan dan menyebar luaskan ajaran Islam dengan lantunan tembang-tembang yang mengandung nilai-nilai ke Islaman, sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari ajaran Islam dengan senang hati dan tanpa paksaan. Salah satu tembang dari  sunan Bonang  yang fenomenal adalah tembang “Tombo Ati”.

4. Sunan Derajat – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Sunan Derajat mempunyai nama kecil syarifuddin atau Raden Qasim yang juga merupakan putra bungsu sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, dan beliau juga merupakan saudara dari sunan Bonang. Sunan Derajat di kenal dengan kecerdasannya, beliau menyebar luaskan ajaran agama Islam di Desa Paciran Lamongan.

Dakwah yang di lakukan oleh Sunan Derajat pada mulanya di lakukan atas perintah ayahnya, yaitu berdakwah di pesisir pantai Gresik, hingga akhirnya beliau menetap di Lamongan. Untuk menempati tempat tersebut Raden Qasim di antar sunan Bonang dengan tujuan meminta izin sultan Demak untuk menempati wilayah tersebut.

Sultan Demak tidak hanya mengizinkannya untuk tinggal namun memberikan tanahnya pada tahun 1486 H. Sunan Derajat di kenal sebagai penyebar agama Islam yang memiliki jiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin, selain itu beliau mengutamakan pada kesejahteraan sosial masyarakat.

Setelah memberikan perhatian penuh, barulah kemudian beliau memberikan pemahaman ajaran agama Islam yang berkaitan tentang adanya empati dan etos kerja yang berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas serta gotong royong.  Cara dakwah yang beliau lakukan banyak menggunakan ajaran luhur dan tradisional lokal.

5. Sunan Kudus – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Sunan Kudus sejatinya bukanlah merupakan penduduk asli Kudus, beliau berasal dan lahir dari Quds negeri palestina, yang kemudian bersama kakek dan ayahnya untuk hijrah ke tanah Jawa. Dalam cerita lain sunan Kudus merupakan pendatang dari daerah Jipang Panolan yang merupakan daerah di sebelah utara Blora.

Sunan Kudus juga merupakan senopati hebat dari kerjaan Demak, ketika beliau menjabat sebagai senopati kerajaan Majapahit di taklukannya. Kesuksesan mengalahkan majapahit membuat posisi Ja’far Shadiq semakin kuat, namun kemudian ia meninggalkan Demak karena ingin hidup merdeka dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyebar luaskan agama Islam.

Dalam menyebarkan ajaran agama Islam sunan Kudus memang banyak berguru dan belajar ilmu agama kepada sunan Kalijaga, sehingga metode dakwah sunan Kudus tidak jauh beda dengan sunan Kali Jaga, yang menekankan pada budaya kearifan lokal  dengan mengapresiasi budaya masyarakat setempat.

Sosok sunan Kudus di kenal karena telah memberikan pondasi pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran. Beberapa nilai toleransi yang di perlihatkan sunan Kudus kepada masyarakatnya adalah tidak boleh menyembelih sapi kepada para pengikutnya, karena saat itu sapi di anggap sebagai hewan suci. Sehingga, ajaran agama Islam dari sunan Kudus ini menekankan pada toleransi beragama.

6. Sunan Giri – Walisongo

Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Balambangan pada masa akhir kerajaan Majaphit. Namun, sayang kelahirannya di anggap sebagai sebuah kutukan oleh ayahnya Dewi Sekardadu, sehingga, ia di paksa oleh ayahnya untuk membuang anaknya dengan menghanyutkannya ke laut.

Setelah Cukup Dewasa, Joko Samudra di bawa ibu angkatnya ke Ampel Denta untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak selang beberapa lama mengajarnya sunan Ampel mengetahui Identitas dari Sunan Giri tersebut, dan kemudian Sunan Ampel mengirimkan sunan Giri bersama juga dengan sunan Bonang untuk mendalami agama Islam di wilayah Pasai.

Cara Dakwah yang di lakukan oleh Sunan Giri adalah dengan menciptakan unsur lagu dan permainan dengan memasukkan beberapa unsur-unsur agamis, hal ini beliau lakukan untuk mendekatkan ajaran agama Islam khususnya untuk anak-anak.

Sunan Giri menciptakan tembang dolanan yang di kenal dengan jelungan bukanlah sekadar nyanyian dan tertawa belaka, namun dari semua itu terdapat pelajaran yang luar biasa terkait dengan ketauhidan.

7. Sunan Kalijaga – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Raden Said merupakan seseorang yang peduli dan dekat terhadap rakyat jelata, hal ini dibuktikan ketika beliau membela rakyat jelata di masa sulit. Saat itu pemerintah sangat membutuhkan dana besar untuk mengatasi roda pemerintahan, sehingga rakyat jelata mau tidak mau harus membayar pajak yang tinggi untuk hal tersebut.

Saat itulah, sunan Kalijaga berpikir harus membantu rakyat jelata. Namun, tanpa berpikir panjang Raden Said melakukan perbuatan tidak terpuji demi menolong rakyat jelata. Beliau mencuri hasil bumi yang tersimpan di gudang ayahnya. Hasil bumi tersebut merupakan hasil upeti rakyat jelata yang akan di setorkan kepada pemerintahan pusat.

8. Sunan Muria – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Nama Sunan Muria di ambil dari tempat tinggal terakhirnya yaitu di lereng Gunung Muria, yakni 18 kilometer ke utara kota Kudus. Sunan Muria mempunyai peran penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam di sekitar Gunung Muria. Dalam menyebarkan agama Islam beliau meniru cara ayahnya, yaitu menyebarkan ajaran agama dengan halus.

Namun, berbeda dengan ayahnya, dalam menyebarkan dakwahnya Raden Umar Sahid (Sunan Muria) lebih senang berdakwah di daerah terpencil dan jauh dari pusat kota. Tempat tinggal beliau berada di puncak Gunung Muria yang bernama Colo, di tempat tersebut beliau berinteraksi dengan rakyat jelata, dan mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang serta melaut.

Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam  tetap  mempertahankan kesenian gamelan serta wayang sebagai alat dakwah. Beliau menciptakan beberapa tembang untuk mengamalkan ajaran Islam. Dengan cara inilah sunan Muria di kenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Sunan Muria juga di kenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai macam masalah.

Dengan gayanya yang moderat dalam berdakwah ini mengikuti jejak ayahnya menyelusup lewat berbagi  tradisi kebudayaan Jawa. Seperti halnya adanya adat kenduri pada hari tertentu setelah kematian yang kemudian di ganti dengan nelung dino sampai nyewu yang tak di haramkannya,  Tradisi membakar menyan atau sesaji di ganti dengan berdo’a dan bersholawat.

9. Sunan Gunung Jati – Walisongo

Walisongo
Walisongo

Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Di usianya yang menginjak 20 tahun sunan Gunung Jati telah di tinggal oleh ayahnya. Setelah di tinggal ayahnya beliau di daulat untuk menjadi Raja Mesir untuk menggantikan ayahnya, namun beliau menolaknya dan memilih untuk menyebarkan ajaran agama Islam ke tanah Jawa bersama ibunya.

Sebelum Sunan Gunung Jati dan ibunya Syaifah Muda’imah datang ke Jawa Barat tahun 1475 Masehi, mereka terlebih dahulu singgah di Gujarat dan Pasai, guna untuk memperdalam ilmu agamanya. Kedatangannya sambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana beserta keluarganya.

Dalam menyebarkan Islam, Sunan Gunung Jati tidak sendiri, beliau di bantu oleh para wali lainnya. mereka biasanya bermusyawarah di masjid Demak. Karena pergaulannya dengan para wali dan sultan Demak, menjadikan sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Pakungwati, yang kemudian ia memprokamirkan dirinya sebagai raja dan mendapat gelar sultan.

Dengan adanya kesultanan, Cirebon tidak lagi mengirimkan upeti kepada pajajaran. Kesultanan pakungwati semakin besar dengan bergabungnya perwira dan prajurit pilihan, terlebih lagi adanya perluasan pelabuhan Muara Jati, yang membuat perdagangan semakin pesat terutama dengan Negara China.

Jalinan Cirebon dan China semakin erat, dalam dakwahnya tersebut beliau mengajarkan ilmu shalat kepada rakyat China, dengan memberitahukan bahwa setiap melakukan gerakan sholat merupakan terapi pijat ringan atau biasa yang disebut dengan akupuntur, ilmu pengobatan tersebut di perolah saat beliau mengembara ilmu di China.

Arti Nama Wali Songo

Walisongo
Walisongo

Nama walisongo masih terkenang hingga saat ini di kalangan masyarakat luas. Julukan walisongo ini diberikan kepada 9 orang wali yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia pada zaman dahulu.  Wali songo terdiri dari dua kata yaitu wali dan songo, yang artinya wali adalah wakil dan songo adalah sembilan.

Menurut agama Islam adanya istilah waliyullah atau wali Allah mempunyai makna yang dekat dengan kekasih Allah. Oleh karena itu, secara bahasanya arti wali songo adalah sembilan wali Allah. Sembilan orang yang termasuk dalam wali songo dijuluki sebagai sunan yang berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa.

Karomah dan Kesaktian Salah Satu Wali Songo

Walisongo
Walisongo

Setiap wali memiliki gaya dan cara yang unik untuk memikat hati para masyarakat, bangsawan, musuh dan lain sebagainya untuk memeluk Islam tanpa adanya paksaan sama sekali. Seperti halnya seorang Brahmana yang ingin menantang dengan mengadu keilmuannya dengan sunan Bonang. Namun saat di tengah perjalanan kapal yang di naiki oleh Brahmana dan muridnya tenggelam.

Hingga akhirnya sang Brahmana terdampar di pesisir laut pantai Tuban. Ketika mereka sadar ada seorang yang memakai jubah putih berjalan dan mendekatinya itu menancapkan tongkatnya, dan beberapa menit kemudian beliau mencabut tongkatnya tersebut kemudian keluar air dan membawa buku-buku Brahmana yang tenggelam.

Sementara itu, murid-murid sang Brahmana merasa kehausan. Hingga akhirnya murid-murid tersebut memandang air jernih yang terpancar tersebut untuk meminumnya, namun sang Brahmana khawatir air tersebut memabukkan, lalu yang terjadi adalah air tersebut sangat segar dan kemudian sang Brahmana ikut meminumnya.

Berbagai kejadian tersebut, hingga akhirnya sang Brahmana dan muridnya masuk Islam tanpa paksaan dengan sendirinya. Dan mereka menjadi murid sunan Bonang.

Pengaruh Wali Songo dalam Budaya Nusantara

Walisongo
Walisongo

Para walisongo tidak hidup persis secara bersamaan, namun hubungan mereka layaknya saudara, teman, guru dan murid, Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua, sunan Ampel merupakan putra dari Maulana Malik Ibrahim, sunan Giri yang juga merupakan keponakan dari Maulana Malik Ibrahim dan sepupu dengan sunan Ampel.

Sunan Bonang dan sunan Derajat merupakan putra dari sunan Ampel, sunan Kalijaga merupakan murid sekaligus teman dari sunan Bonang. Sunan Muria merupakan putra dan sunan Kalijaga, sunan Kudus merupakan murid dari sunan Kalijaga, dan sunan Gunung Jati merupakan sahabat dari para sunan lainnya, kecuali Maulana Malik Ibrahim karena lebih dahulu meninggal.

Mereka semua merupakan para pembaharu masyarakat pada masanya, mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti halnya bercocok tanam, berdagang, kebudayaan, kesenian, kesehatan, kemasyarakatan hingga pemerintahan, meski demikian sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara sudah banyak suku, bangsa, organisasi, sosial budaya, ekonomi yang berkembang.

Era Wali Songo merupakan era berakhirnya kerajaan Hindu-Budha dalam budaya Nusantara di gantikan dengan kebudayaan Islam. Saat itulah peranan walisongo sangat penting dalam menyebarluaskan Islam di tanah Jawa, beberapa metode yang di gunakan walisong adalah akulturasi Islam dengan adanya budaya-budaya lokal Nusantara saat itu.

Peran Walisongo Dalam Menyebarluaskan Ajaran Agama Islam

Walisongo
Walisongo

Beberapa peran walisongo dalam menyebarkan ajaran agama Islam di antaranya adalah sebagai pelopor penyebar luasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran agama Islam di daerahnya masing-masing, sebagai pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.

Sebagai orang yang ahli dalam bidang agama Islam, sebagai pemimimpin agama Islam di setiap daerah yang di pimpinnya, sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada setiap muridnya, sebagai kyai yang menguasai ajaran Islam secara luas dan sebagai tokoh masyarakat yang disegani di masa hidupnya.

Makam Walisongo di Tanah Jawa

Walisongo
Walisongo

kesembilan wali tersebut di kenang atas jasa-jasanya, selain itu mereka di kenal sebagai tokoh penting Indonesia, oleh karena itu hingga saat ini adanya tradisi ziarah ke makam wali songo menjadi rutin di lakukan oleh kebanyakan orang masyarakat Jawa pada khususnya. Dalam menyebarkan ajaran Islam setiap wali singgah di daerah yang berbeda-beda, dan mengabdikan diri hingga wafat.

Makam sunan Ampel ini berada di kawasan wisata budaya Surabaya yang berdekatan dengan area pecinan kya-kya Kembang Jepun dan kampung Arab di Jawa Timur. Sunan Giri dan sunan Gresik makamnya berada di Kota yang sama yaitu kota Gresik, namun sunan Giri letaknya di puncak sebuah bukti kebomas Gresik, sedangkan sunan Gresik berada di dekat dengan pusat kota Gresik.

Sang legenda pemilik tembang tombo ati yaitu sunan Bonang ini makamnya berada di seberang masjid Agung Tuban, tepatnya di salah satu sisi alun-alun kota Tuban, Jawa Timur. Sedangkan makam dari sunan Derajat berada di daerah wisata Lamongan bukit tinggi dan di kelilingi oleh pepohonan yang luas. Sunan Kudus makamnya di letakkan di tengah bangunan yang menyerupai joglo.

Makam sunan Muria berada di gunung Muria Jepara, untuk makamnya sunan Kalijaga berada di pinggiran kota Demak, namun cukup dekat dengan kompleks pemakaman kerajaan Demak. Makam tersebut menjadi wisata sejarah dan religi populer di Demak. Sedangkan sunan Gunung Jati makamnya berada di Cirobon, dan makamnya di hiasi beberapa ornamen budaya Tiangkok.

Sumber literatur sejarah yang beragam setidaknya harus di mengerti dan pahami isi kandungan ajaran Islam dan kebaikan yang tersirat di dalamnya dengan baik. Meski zaman telah berubah dan berkembang saat ini, sudah sepatutnya sebagai penerus harus menghargai sejarah, menghormati dan melanjutkan perjuangan para pendahulu. Jangan pernah lupakan sejarah.

Boleh copy paste, tapi jangan lupa cantumkan sumber. Terimakasih

Walisongo

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: